Kategori
Travel

Destinasi Wisata Indah dan Bersejarah di Uzbekistan, Yuk Kunjungi!

Destinasi Wisata Indah dan Bersejarah di Uzbekistan, Yuk Kunjungi!

Di lansir dari tequila-orendain.com,Uzbekistan merupakan negara landlocked (tidak memiliki wilayah berupa lautan) di Asia Tengah. Yang di apit oleh beberapa negara yang uniknya semua berakhiran ‘tan’. Yaitu Turkmenistan, Kazakhstan, Tajikistan, Kyrgyzstan, dan Afghanistan.

Uzbekistan dulunya adalah state atau negara bagian dari Uni Soviet. Sehingga Uzbekistan terkadang masih d sebut-sebut sebagai “bekas Soviet” atau “bekas komunisme”. Akan tetapi, semuanya telah berlalu dan negara ini kini berusaha terbuka lebar terhadap dunia. Dengan memamerkan destinasi-destinasi wisata andalannya, tidak lagi tertutup rapat bagaikan “tirai besi” seperti dulunya.

Tempat-tempat historis di Uzbekistan tidak terlepas dari sejarah peradaban Islam di Asia Tengah ratusan tahun yang lalu. Maka dari itu, situs-situs yang di banggakan negara ini rata-rata merupakan bangunan bercorak Islam khas Uzbekistan, yang berbeda dari negara-negara lainnya.

Kemajuan negara ini juga tidak terlepas dari sejarah geografis Jalur Sutera, jalur penghubung perdagangan Barat dan Timur. Kota-kota seperti Samarkand, Bukhara, dan Khiva dulu menjadi seperti transit hub atau tempat persinggahan para pedagang yang berlalu-lalang dari Barat-Timur dan sebaliknya.

Di kutip dari IDN Poker APK, berikut beberapa situs di Uzbekistan yang memiliki sejarah kaya. Dan panjang bahkan jauh sebelum pengaruh Uni Soviet. Yuk, simak bersama!

1. Registan

Bangunan-bangunan ini sekilas menyerupai masjid; tetapi sebenarnya bukan, melainkan madrasah (institusi pendidikan/sekolah religi dalam Islam). Ketiga madrasah besar tersebut di tambah dengan lapangan luas di tengah-tengah “membingkai” suatu kompleks yang di namakan Registan (dalam bahasa Persia berarti “gurun”).

Registan, yang di bangun mulai dari abad ke-15 sampai abad ke-17 ini berada di kota Samarkand, kota terbesar kedua di Uzbekistan. Sekilas melihat Registan, memang benar bahwa peradaban Islam berpengaruh sangat besar dalam pembangunan dan kemajuan kota ini. Kota Samarkand sendiri dulunya adalah ibu kota Kekaisaran Islam Timurid pada abad ke 14 dan 15.

Warna biru dan hijau mendominasi interior dan eksterior arsitektur-arsitektur bercorak Islam di Uzbekistan, khususnya juga Samarkand. Sebab, warna turquoise inilah yang menjadi ciri khas Arsitektur Timurid.

Di samping warna-warna yang cerah, ornamen-ornamen indah dengan kedetailan tingkat tinggi juga menghiasi hampir atau seluruh bagian madrasah-madrasah di kompleks Registan. Yang menarik adalah setiap madrasah memiliki kombinasi dekorasi yang unik dan berbeda satu sama lain.

2. Mausoleum Gur-e-Amir

Situs yang juga berlokasi di Samarkand ini merupakan mausoleum (bangunan khusus untuk makam) dari Amir Timur, pendiri kekaisaran Timurid (1370-1507), sekaligus pemimpin/Emir pertamanya.

Beliau merupakan seorang penakluk dan tokoh cerdas yang berperan besar dalam perluasan wilayah, pembangunan dan pengembangan berskala besar kota-kota di Uzbekistan, khususnya Samarkand. Di dalam kompleks Gur-e-Amir ini, terdapat pula makam anak, cucu, dan bahkan guru Amir Timur.

Interior makam keluarga ini di penuhi dengan lapisan-lapisan emas dan ubin-ubin bewarna biru sehingga dengan bantuan beberapa lampu, interiornya terlihat cukup “silau” dan begitu mewah. Hal ini di lakukan untuk menghormati Amir Timur sebagai tokoh yang amat penting pada masa keemasannya di kawasan Asia Tengah.

3. Observatorium Ulugh Beg dan Museum Observatorium

Tidak hanya Registan atau Makam Gur-e-Amir, terdapat juga sebuah bangunan yang merupakan saksi sejarah Islamic Golden Age di kota Samarkand, yaitu Observatorium Ulugh Beg.

Tempat ini dulunya adalah tempat penelitian ilmuwan-ilmuwan Timurid pada saat itu yang berperan dalam kemajuan bidang matematika dan astronomi. Fungsi utama di bangunnya tempat ini adalah untuk pengamatan bintang di angkasa.

Di seberang observatorium ini terdapat sebuah museum yang menyimpan manuskrip dan peralatan-peralatan astronomi yang di gunakan ilmuwan-ilmuwan Timurid pada masanya, meski beberapa merupakan replika. Eksterior museum pun di hiasi dengan ubin-ubin dekoratif yang juga dominan berwarna biru hijau yang menjadikannya tidak kalah menarik dari situs-situs lainnya.

Kategori
Travel

Tangsi Peninggalan Belanda di Siak, Kini Jadi Situs Terpopuler

Tangsi Peninggalan Belanda di Siak, Kini Jadi Situs Terpopuler

Satu bangunan peninggalan Kolonial Belanda masih berdiri kokoh dan megah di Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau.

Bangunan yang berdiri pada abad Ke-18 atau pada masa Sultan Siak IX, Sultan Asy-Syaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin yang memerintah tahun 1827-1864.

Dahulunya bangunan Tangsi Belanda itu berfungsi sebagai zona perlindungan dan pertahanan bagi tentara belanda di masa lalu.

Dalam kompleks terdapat berbagai enam unit bangunan yang membentuk formasi melingkar sehingga terdapat halaman di dalam dengan beragam fungsi seperti sebagai penjara, asrama, kantor, gudang senjata, dan logistik.

1. Terdapat empat bangunan di dalam dan ada ruang tahanan

Di lansir dari tequila-orendain.com, pembangunan Tangsi Belanda di perkirakan pada abad ke-18 dan sezaman dengan masa berlangsungnya Kesultanan Siak, terutama setelah di tandatanginya Traktat Siak pada masa Sultan Siak IX. Sultan Asy-Syaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin yang memerintah tahun 1827-1864.

Bangunan I yang berada di sebelah timur merupakan bangunan 2 lantai, berukuran panjang 18 meter dan lebar 9,6 meter.

Lantai bawah terdiri dari bangunan sayap utara yang berfungsi sebagai ruang jaga, kantor dan ruang tahanan.

Pada bangunan sayap selatan terdapat empat ruangan yang dahulu pernah di pergunakan sebagai kamar mayat dan rumah sakit.

Sementara dua unit bangunan yang berada di belakang (bangunan II dan III), merupakan bangunan dua lantai yang sama bentuknya dan berukuran 15x11meter.

2. Dulu fungsinya sebagai kantor dan asrama untuk tentara Belanda

Di kutip dari IDN Poker APK, dahulunya lantai bawah bangunan tersebut pernah di fungsikan sebagai kantor, dan lantai atas di peruntukkan sebagai asrama dan tempat tinggal tentara Belanda.

Di ujung selatan halaman dalam terdapat sisa-sisa bangunan (bangunan IV).

Bagian utara bangunan utama terdapat bangunan bekas gudang senjata (bangunan V) berukuran 6,7x 6 meter.

Pada ujung barat halaman, juga terdapat sisa bangunan WC dan kamar mandi berukuran 6 meter persegi yang terdiri dari 3 ruangan.

Hal yang sangat unik dan khas dari Tangsi Belanda kata dia adalah ketika melihat struktur pondasi yang berbentuk setengah lingkaran dengan peletakan tiga sendi.

Teknologi arsitektural pada pondasi tangsi ternyata sangat mendekati bangunan kolonial di negara asalnya di Eropa.

Sementara itu, uniknya lagi pada tata letak bangunan menghadap sungai dan menerapkan konsep waterfront city. Yang memungkinkan Belanda pada waktu itu mengintai kapal yang masuk dari muara Sungai Siak.

Tahun 2018 lalu, melalui Kementerian PUPR melaksanakan proyek revitalisasi pada Gedung A dan Gedung F. Yang berada paling depan dan belakang kompleks tangsi.

Gedung F yang paling belakang dahulunya di jadikan tempat makan para tentara.